Watch Around and Write It Down

Baca|Amati|Ikat|Tuliskan|Mencari Recehan dari Menulis

Jumat, 25 Mei 2018

Mengenal Identitas Diri Dilihat Dari Kemajemukan Sosial dan Budaya

Hidup pada lingkungan yang multikultural menuntut kita untuk menampilkan diri sebagai pembeda secara sosial dan budaya (etnik). Apakah kita sama dengan mereka atau justru berbeda. Secara kasat mata, tipologi fisik manusia dapat dibaca dan diiterpretasikan dalam golongan tertentu. Misalnya dari warna kulit, tipe rambut, maupun karakter genetik lainnya. Namun, di era perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini, membuat gelombang kebudayaan bercampur secara massal sehingga sulit untuk mengidentifikasikan sebuah etnik seseorang hanya secara kasatmata saja. 
Sebut saja namanya Nia, seorang wanita asli Indonesia yang merupakan keturunan Jawa yang sedang kuliah di Amerika. Suatu hari ia pergi kuliah dengan meneganakan celana jeans dan baju crop top, rambutnya tergerai yang sudah di highlight pirang. Bila Anda baru saja berpapasan dan melihat Nia, mungkin Anda tidak akan menyangka kalua dia berasal dari Indonesia, bukan peranakan asli Amerika. Nia sebenarnya bingung mengenai siapa dirinya. Ada banyak identitas yang digunakan berdasarkan cara berpakaian, warna rambut, namun di dalam darahnya mengalir darah Indonesia yang menganut budaya ketimuran. Tidak hanya Nia, banyak dari kita mengalami krisis identitas karena derasnya arus budaya yang masuk sehnigga sedikit demi sedikit mengikis kebudayaan asli.

Perlukah Identitas Etnik Menjadi Identitas Diri?

Di era informasi ini, mungkin masih banyak yang mempertanyakan pentingkah identitas etnik ditonjolkan? Sangat perlu, inilah yang menjadi pembeda antara Anda dengan orang lain. Identitas etnik dan ras memberikan makna tentang keberadaan kita sebagai manusia yang nyata, karena manusia berada dalam konteks sejarah dan konteks sosial (Liliweri, 2005). 

Ada nilai yang penting dan harus dipahami bahwa identitas etnik tidak berasal dari opini atau prasangka yang berkembang dalam suatu masyarakat. Identitas etnik dibangun dari dalam (Carmen Guanipa-Ho, 1998). Artinya bahwa selain identitas sosial yang bisa dikontruski seperti cara berpakaian, model dan gaya rambut yang menjadi bagian dari kompleksitas budaya namun ada identitas etnik yang menjadi latar belakang dan membawa nilai-nilai dasar sebagaimana kita mengenal bahasa ibu pertama kali. Jika kita sudah mengetahui asal-usul dan dimana tempat kita hidup maka kita akan tahu siapa diri kita. 

Kenneth Burke mengatakan bahwa identitas budaya sangat erat kaitannya dengan penggunaan “bahasa” sebagai unsur kebudayaan sebagai nonmaterial. Identitas dibangun melalui interaksi sosial dan komunikasi. Jadi, identitas diperoleh dari pengakuan Anda kepada orang lain mengenai siapa Anda. Menurut Alo Liliweri dalam bukunya berjudul Prasangka dan Konflik (2005), ada tiga bentuk identitas manusia, yaitu:
  • Identitas Pribadi: Identitas personal didasarkan pada keunikan karakteristik pribadi seseorang
  • Identitas Sosial: Identitas ini terbentuk sebagai akibat dari keanggotaan kita dalam suatu kelompok kebudayaan
  • Identitas Budaya: Identitas budaya merupakan ciri yang ditunjukkan seseorang karena orang itu merupakan anggota dari sebuah kelompok etnik tertentu
Saat ini terjadi gelombang modernisasi mempengaruhi komunitas dan identitas etnik dimana budaya dari etnik-etnik tertentu keluar dari batas-batasnya, sehingga identitas etnik sebagai identitas budaya berubah menjadi identitas budaya “baru” atau sekadar sebagai identitas sosial semata.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar