Watch Around and Write It Down

Baca|Amati|Ikat|Tuliskan|Mencari Recehan dari Menulis

Sabtu, 26 Mei 2018

Memahami Konsep Mayoritas dan Minoritas Dalam Masyarakat

Persoalan tentang mayoritas dan minoritas adalah persoalan yang dihadapi di hampir semua negara di dunia. Indonesia misalnya, dikatakan sebagai negara mayoritas Islam walaupun bukan sebagai negara Islam. Konsep mayoritas dan minoritas memang sering diidentikkan dengan agama, etnik, suku, ras, dan golongan tertentu. Konsep ini seharusnya tidak menjadi “beban”, contoh Amerika dan Australia justru mendorong multikulturalisme yang bangga akan keberagaman masyarakatnya. Frasa “Melting Pot” dan “Salad Bowl” merupakan konsep yang dibawa oleh Barat dalam rangka peleburan budaya untuk mengatasi adanya perbedaan dalam masyarakat.

Gagasan-gagasan yang dimunculkan tadi membuat perubahan pada masyarakat yang dulunya melakukan diskriminasi, sekarang mulai menerima perbedaan. Mulai dari penggunaan fasilitas umum seperti sekolah, transportasi, restoran bahkan dalam berpolitik sudah tidak melihat perbedaan sebagai penghalang tetapi hanya sekadar kategori sosial demi menjelaskan identitas asal-usul.

Konsep Mayoritas

Konsep Mayoritas tidak bisa lepas dengan kekuasaan, keduanya selalu terkait satu sama lain. Lantas, orang pun akan bertanya “akankah minoritas itu berkuasa?” Menurut Jefferson yang menulis The Jeffersoanian Perspective: Commentary on Today’s Social and Political Issues Based on the Writing of Thomas Jefferson bahwa gagasan mayoritas harus diimbangi dengan membiarkan kaum minoritas turut serta dalam menjalankan kekuasaan melalui partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan.
Dalam suatu masyarakat, kelompok mayoritas atau disebut juga kelompok dominan merasa memiliki kontrol dan sumber daya kekuasaan dalam setting institusi yang berbeda-beda. Sebaliknya, kaum minoritas kurang memiliki akses terhadap sumber daya atau bahkan kurang mendapatkan peluang kekuasaan seperti mayoritas. 

Konsep tentang mayoritas seringkali dihubungkan dengan dominant culture. Kelompok yang menganut budaya dominan mungkin lebih mengutamakan etika kerja sebagai kunci sebuah peran untuk mengartikan norma. Kelompok ini berbeda dengan orang lain yang mendapatkan kekuasaan karena kepemilikan uang, sumber daya alam, kepemilikan media massa, sekolah maupun peran dalam pemerintahan. Dalam konsep ini, isu kekuasaan mayoritas dan minoritas dapat disela oleh berbagai interseksi variable (Banks, 1991). Variabel ini dapat berupa etnis, ras, pendidikan, hak-hak, dan-lain-lain dan variable tersebut dapat menentukan dominasi sebuah budaya.

Dalam ilmu sosialogi, mayoritas dan minoritas tidak selalu mengacu dari segi jumlah, tetapi merujuk pada sebuah kelompok yang memiliki kekuasaan tertentu atau yang sangat berpengaruh dalam masyarakat. Namun, sejak awal, gagasan mengenai mayoritas terus dikaitkan dengan pembagian kekuasaan sehingga melahirkan prasangka sosial mayoritas terhadap minoritas maupun sebaliknya. Prasangka inilah yang merupakan studi klasik dari diskriminasi.

Konsep Minoritas

Shafer mengemukakan bahwa identifikasi kelompok minoritas dalam masyarakat selalu memperlihatkan semacam sekelompok orang yang melaksanakan tugas yang sangat sederhana. Jadi, mereka adalah sekelompok kecil orang yang “keluar” atau tersendiri dari kelompok besar. Namun, perlu diperhatikan bahwa status minoritas tidak tergantung pada jumlah mereka yang secara matematis kecil. Sosislogi memandang minoritas (juga mayoritas) tidak berdasarkan jumlah, tetapi pada status dan peran. Kelompok mayoritas bisa saja satu orang dan sepuluh orang, dan sebaliknya, kelompok minoritas bisa satu orang atau seribu orang. Jadi, tergantung pada alokasi peran dan pengaruhnya. 

Anggota kelompok minoritas mempunyai pengalaman unik karena mereka diperlakukan secara tidak adil dari kelompok dominan melalui prasangka, diskriminasi, dan segregasi. Keanggotaan kelompok minoritas selalu menyadari bahwa mereka punya status yang lebih rendah daripada kelompok mayoritas. Persepsi mereka mereka seolah terbentuk bahwa kelompok mayoritas yang menjadi pemimpin mereka.

Sumber: Bab 4 dari Buku Prasangka dan Konflik (Liliweri, 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar