Watch Around and Write It Down

Baca|Amati|Ikat|Tuliskan|Mencari Recehan dari Menulis

Selasa, 23 Februari 2016

Jangan Biarkan Emosi Mempengaruhi Sikap Profesionalisme Anda

Sebagai seorang karyawati yang sudah beberapa kali gonta ganti perusahaan-pimpinan hingga akhirnya menjadi karyawan tetap, banyak pengalaman yang mengajarkanku tentang kedewasaan dalam bekerja.

Aku termasuk beruntung karena mulai memasuki dunia pekerjaan di tahun 2009 hingga sekarang, aku telah bertemu banyak orang, telah dipimpin oleh orang yang memiliki karakter berbeda. 

Pada masa awal aku bekerja, masih pemula, masih lugu aku dipertemukan oleh leader dan pemimpin yang sangat profesional. Mereka sangat menghargai waktu, memberikan reward kepada karyawan yang berprestasi dan memberi bimbingan kepada karyawan yang kinerjanya ada penurunan.

Kemudian aku pindah ke kepemimpinan lain yang lebih santai, tetapi serius. Di sini bila kamu gesit dan lincah akan sangat menolong. 

Setelah itu aku menjadi karyawan tetap di instansi pemerintah. Di instansi ini aku telah dipimpin oleh banyak orang dalam jangka waktu lima tahun. Ada pemimpin yang berwibawa, selengean, kalem, sensitif, workaholic, cuek, dan ada juga yang misterius.

Tahun pertama, tahun kedua aku masuk ke dunia birokrasi, aku masih belum terbiasa. Sering aku berdebat dengan banyak orang termasuk pimpinan. Alasannya tentu karena pengaruh emosi. Bila ditanya kenapa aku bisa emosi maka jawabannya adalah aku belum terbiasa merespon sikap yang tidak berpola dan selalu berganti-ganti sesuai mood.

Aku sempat bertanya-tanya, mengapa di perusahaan-perusahaan sebelumnya aku bisa tenang bekerja bahkan bisa jadi pegawai terbaik. Apa bedanya dengan sekarang? 

Setelah lama memikirkannya akhirnya aku menemukan jawaban. Dulu, jenis pekerjaanku hanya mengajarkanku untuk patuh pada SOP yang ada. Semuanya sudah dijelaskan sedari awal, kita hanya harus mengikuti polanya. Setiap orang sibuk mengikuti pola masing-masing sehingga hampir tidak ada masalah selama sesuai track-nya.

Nah, sekarang? aku dipertemukan oleh pekerjaan yang lebih variatif, orang-orang yang punya kepentingan, strategi, passion dan aku termasuk di dalamnya. Tidak ada pola yang kuikuti. Apa yang diperintahkan itu yang dikerjakan. Apa yang tertulis di SOP bisa berbeda dengan apa yang dilakukan. Adanya kepentingan membuat loyalitas dipertanyakan. Tetapi inilah sesungguhnya tantangan dunia kerja.

Aku belajar dari tahun ke tahun, dari setiap masalah yang kutimbulkan, dari nasehat orang-orang. Jangan biarkan emosi mempengaruhi kinerjamu. Memang tidak segampang itu untuk menjalaninya. Apalagi bila memiliki pimpinan yang tidak bisa mengerti atau membaca karakter karyawannya. Sebagai bawahan, kitalah, pribadi yang harus berpikir dewasa.

Tidak mau berurusan lagi dengan emosi negatif maka saranku adalah bersahabatlah dengan Job Desk, SOP dan aturan yang ada. Batasi menggunakan perasaan saat bekerja kecuali perusahaan itu adalah milikmu, hasil jerih payahmu. Pelajari karakter teman-teman kerjamu, sehingga kamu tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan mereka.

Waspadalah karena akan ada segelintir orang yang menyukai drama. Mereka biasanya lebih banyak bicara daripada bekerja. Tidak puas bila tidak mengetahui gosip atau isu terbaru. Saranku jangan pernah berkeluh kesah di depan orang ini.

Terakhir, bahwa pekerjaan adalah ibadah. Jadi panenlah pahala dalam bekerja. Senyum dan ramah pada semua orang, jujur, menolong teman yang membutuhkan, menghargai orang lain, sabar bila dizalimi, dan yang paling penting adalah selalu berpikiran positif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar