Watch Around and Write It Down

Baca|Amati|Ikat|Tuliskan|Mencari Recehan dari Menulis

Minggu, 15 November 2015

Menggapai Pahala Dengan Menulis

Aku sedang mengikuti kelas menulis online dimana aku dan puluhan bahkan ratusan penulis yang haus ilmu diberikan pelajaran menulis melalui media sosial whatsapp. Wah... Benar-benar metode ajar yang baru. Kalau sistem belajar jarak jauh sudah biasa kudengar, bahkan dulu aku kuliah pake sistem itu. Tapi yang namanya belajar melalui whatsapp baru kali ini.

Adalah ayahku yang pertama memberi informasi berharga ini. Maklum, beliau lagi aktif-aktifnya ikut majelis, komunitas, seminar jadi infonya ada banyak.

Awalnya tidak begitu tertarik ikut komunitas Kelas online ini tetapi setelah kupikir-pikir lagi... Hey. Bukankan hidup itu tentang terus dan terus belajar?! Bukankah aku masih membutuhkan banyak ilmu untuk menjadi penulis?! Kalau begitu, ambil kesempatan ini. Kesempatan untuk belajar dan membuka pintu silaturahmi.

Awalnya Menulis Adalah Hobiku

sejak SD aku sudah punya buku diary. Diary buatku adalah tempat curhat. Dulu sih istilah "curhat" belum ngehits kayak sekarang, belum ada yang buat lagunya sih.

"Dear Diary..." adalah kalimat pertama yang kutulis untuk menyapa teman curhatku ini. Dan setelah itu mulai aku menulis kalimat demi kalimat yang keluar dari isi hati, mulai dari cerita aku dapat nilai bagus, diejek teman sampai perasaan aneh yang kurasakan saat bertemu teman cowok yang cuakep, hehe... Maklum waktu itu masih ababil.

Ya, begitulah diaryku menjadi teman setiaku yang bisa kuajak bercerita kisah dan perasaanku yang tak bisa kuungkapkan pada orang lain. Tidak pada mama yang sibuk mengurus adek-adekku yang masih kecil-kecil, tidak juga pada ayahku. Masih malu sih, intinya.

Aku pernah marah sekali pada adikku yang berhasil menemukan tempat persembunyian diaryku. Celakanya, dia membaca beberapa tulisanku dan setelah itu habislah kudiejek olehnya. Sejak saat itu aku ganti buku diaryku. Aku beli diary yang punya gembok, lebih aman.

Mengenal Blog

Aku ingin berterimakasih pada dosenku di politeknik negeri ujung pandang yang mengenalkanku dengan blog. Saat itu aku diberi tugas oleh dosen dan harus diupload di blog. Hampir seharian aku diwarnet, mengotak atik wordpress. Dari situ aku tahu kalau blog lebih seru daripada diary.

Hampir sama dengan kebanyakan gadis lain, aku menulis di blog juga. Isinya tiada lain dan tiada bukan, curhatan semua. Ada juga sih mengenai pelajaran walau tak banyak.

Lama-kelamaan aku mulai menulis untuk cari uang. Ikut-ikut lomba walau tidak pernah menang, hehe...
Entah siapa yang mengenalkanku pada satu forum internet marketing. Aku lupa bagaimana aku bisa masuk disitu, yang jelas, setelah masuk disitu pandanganku jadi berubah.

Menulis Untuk Mendapatkan Uang

Di forum itu aku jadi tahu bahwa banyak orang yang butuh tulisan (artikel) dan banyak orang yang tidak bisa menulis. Sebagai pemula aku membiarkan diriku terlibat dalam dunia itu. Dunia marketing dimana aku dibayar bila aku menulis. Hasilnya lumayan. Aku dapat kerjaan sampingan, aku dapat klien, aku dapat capek. Capek karena aku harus putar otak menulis sesuai keinginan mereka.

Akhirnya, aku mulai mengurangi kerajaan yang melelahkan itu. Bagaimana mungkin menulis yang merupakan hobiku jadi begitu melelahkan dan bikin stres. Aku tahu jawabannya. Karena aku menulis bukan untuk diriku sendiri. Aku menulis bukan dari hati. Tapi demi bayaran.

Tetapi, aku bersyukur bisa merasakan pengalaman itu. Aku jadi lebih mengenal diriku sendiri. Aku belajar banyak hal dari situ. Aku membaca dan menulis banyak tentang banyak hal. Dan aku punya eksistensi disitu.

Menulis Itu Disertai Tanggungjawab

Menulis tidak hanya sekadar merangkai kata, ada tanggungjawab di dalamnya. Jadi jangan sekali-kali menulis tanpa ilmu.

Banyak klien yang masih mencariku dan memintaku menjadi penulis mereka. Saat kuberitahu bahwa aku sudah tidak menerima orderan mereka kecewa. Yang membuatku terperangah adalah ketika kutanya kenapa masih mencari aku bukannya penulis lain, mereka bilang senang dengan tulisanku. "artikel buatan mba qurathun bagus", "udah senang dengan tulisan mba", dll kata mereka. Disitu aku serasa menjadi manusia seutuhnya, bisa bermanfaat untuk orang lain.

Menulis Untuk Memberi Manfaat

Aku ingin jadi penulis dimana tulisanku bisa bermanfaat untuk umat. Aku mau tulisanku bisa menghindarkan keburukan dan mendatangkan kebaikan bagi orang lain.

Aku ingin tulisanku menjadi ladang pahala tak terhenti hingga sampai keturunanku nanti. Aku ingin menjadi penulis karena menulis membawa ketentraman hati.
InsyaAllah, semoga Allah meridhoi dan mempermudah jalanku, Amin.

4 komentar:

  1. Keep on writing, girl.. saya tdk pernah tertarik menulis untuk content marketing yg tdk mencantumkan namaku dan tdk sesuai styleku. Mending di blog saja, dri situ jg bisa dpt 'tulisan berbayar' sesuai dengan visiku. Jujur,tdk berlebihan dalam menilai satu produk. Kalau berguna buat org lain, alhamdulillah.. tapi saya tdk pernah berpikir jauh sampai ke situ. Nulis sesuai kata hati dan pikiran saja dan sebaiknya no curhat. Sudah gak jaman hahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak...keep on writing....

      hahahaha.... kalau aku masih ada sesi curhat-curhatnya tapi mau diarahin supaya nggak murni curhat banget, kayak semacam share dan cara mengatasi ajah, siapa tau berguna bagi orang lain :-)

      Hapus
  2. Keep on writing, girl.. saya tdk pernah tertarik menulis untuk content marketing yg tdk mencantumkan namaku dan tdk sesuai styleku. Mending di blog saja, dri situ jg bisa dpt 'tulisan berbayar' sesuai dengan visiku. Jujur,tdk berlebihan dalam menilai satu produk. Kalau berguna buat org lain, alhamdulillah.. tapi saya tdk pernah berpikir jauh sampai ke situ. Nulis sesuai kata hati dan pikiran saja dan sebaiknya no curhat. Sudah gak jaman hahahahah

    BalasHapus
  3. Nulis sbg penentram/penawar ! Dahsyaaaat !!!

    BalasHapus