Watch Around and Write It Down

Baca|Amati|Ikat|Tuliskan|Mencari Recehan dari Menulis

Senin, 30 November 2015

Apakah Wanita Harus Ikut Bekerja?

Apakah Wanita Harus Bekerja? atau sudah kodrat wanita menjadi ibu rumah tangga? sebagai seorang wanita, aku sangat mengerti kegalauan ini. Wanita juga manusia, wanita juga memiliki impian dan cita-cita, walau memang ada juga wanita yang memiliki impian sebagai ibu rumah tangga tulen. Itu juga diapresiasi. Tetapi disini, saya ingin membahas mengenai wanita seperti diriku sekarang, dimana ada banyak peran yang harus dikerjakan. Peran di rumah tangga, peran sebagai seorang anak dan peran sebagai seorang pekerja.

Semuanya Berawal Dari Mimpi

Sejak kecil, kita sudah terbiasa mendengar pertanyaan "Kalau besar nanti mau jadi apa?". Karena sering diserang pertanyaan seperti ini, kita pun yang dulunya masih unyu-unyu, masih polos dan sebenarnya tidak begitu mengetahui apa saja sebenarnya profesi yang ada di dunia ini, berapa bayarannya dan terlebih lagi, kita tidak begitu mengetahui jenis pekerjaan tersebut, menjawan pertanyaan itu dengan jawaban yang asal-asalan saja. Karena dari kecil, kita paling sering bertemu dengan orang-orang yang berprofesi sebagai dokter di puskesmas atau rumah sakit, jadi kebanyakan anak-anak kecil yang ditanya pertanyaan tadi akan mengatakan kalau besar akan menjadi dokter. Di posisi kedua setelah dokter adalah polisi, karena anak-anak sudah familiar dengan Bapak/Ibu berseragam polisi yang biasanya menertibkan jalan.

Kalau aku dulu ketika ditanya, akan jadi apa nanti, kujawab dengan enteng mau jadi dokter. Soalnya mau jawab apa lagi? mana aku tahu kalau sekarang pekerjaan jadi desain animator itu ternyata keren banget. Atau berprofesi sebagai penulis ternyata bisa mendapat penghasilan besar? mana aku tahu dulu....

Seandainya.... seandainya.... seandainya.... tidak akan ada habisnya, setiap hari, setiap detik adalah perjuangan dan Allah S.W.T yang menutunku sehingga aku bisa menjadi Qurata Ayuni yang sekarang.

Kembali lagi ke topik, semuanya berawal dari mimpi. Setelah kuliah aku baru memutuskan, ingin menjadi apa nantinya. Aku ingin bekerja, aku ingin ngeblog dan tentunya aku ingin menghasilkan uang. Perjalanan karirku dari satu perusahaan ke perusahaan lain cukup mulus. Bila orang lain sibuk mencari pekerjaan tak kunjung diterima, Alhamdulillah, aku bisa dua kali ganti pekerjaan dengan gaji yang lumayan, cukup untuk hidup dan menghidupi keluargaku.

Semuanya Berawal Dari Kebutuhan

Wanita itu punya banyak kebutuhan ya. Kebutuhan merawat tubuh saja terbagi atas beberapa bagian. Merawat rambut, merawat wajah, merawat kuku, merawat organ kewanitaan dan lain-lain. Perlu biaya dan perhatian yang tidak sedikit. Coba tanya para lelaki, mau tidak sama wanita yang tubuhnya tidak terurus? kalau masih normal pasti jawabannya tidak.

Itu baru kebutuhan jasmani si wanita saja lho. belum rohani. Wanita kalau mau ibadah, sholat perlu beli mukenah yang terbaik, baju muslimah yang terbaik. Mumpung disinggung mengenai baju muslimah, saya singgung sedikit dulu mengenai ini. Sekarang, di tahun 2015, dimana trend fashion busana muslimah lagi hits, coba tebak berapa harga baju muslimah di pasaran? Secara umum ya, minimal Rp. 100.000, itu pun sudah yang kualitas rendah. Baju muslimah yang kualitas tinggi, yang jenis kainnya bagus, adem, cantik dan syari bisa mencapai Rp. 400.000 - Rp. 500.000, itu baru baju yang dibeli di pasar-pasar lho, belum harga baju muslimah yang dijual di butik kelas atas. Bagaimana? untuk menutup aurat saja butuh biaya besar dong. Kecuali kalau kita bisa beli kain sendiri dan menjahit sendiri, tentunya lebih murah.

Islam mengajarkan kita untuk rajin sedekah, berinfaq dan membantu sesama. Walaupun senyum juga sudah termasuk sedekah, tetapi apakah perut si miskin bisa kenyang dengan sedekah? apakah masjid bisa dibangun hanya dengan berdoa saja? tentulah tidak. Kita membantu si miskin untuk bisa makan dengan memberinya makanan dan masjid dibangun dengan membeli bahan bangunan serta menyewa tukang bangunan. Kita harus bisa menghasilkan uang bagi diri sendiri dan bagi agama tercinta ini, Islam.

Bila engkau dilahirkan di keluarga yang mapan, dimana makan, minum, pakaianmu terpenuhi, mungkin menghasilkan uang bukanlah perkara utama. Tetapi bila engkau dilahirkan di keluarga yang miskin, ayahmu bukanlah seorang direktur, hanya seorang ayah yang tidak memiliki pekerjaan tetap, ibumu pun hanya tamatan SMA yang tidak mengerti cara mencari uang, sedangkan dirimu dan adik-adikmu butuh biaya untuk makan dan sekolah, mencari uang adalah PR yang harus cepat diselesaikan.

Semuanya Menjadi Ambigu Ketika Menikah

Menjadi wanita mandiri saat masih single sungguh bahagia. Punya penghasilan sendiri, bisa belajar mengatur keuangan, bisa membantu sesama. Tetapi bagaimana ketika sudah menikah? OK, apalagi ketika sudah memiliki anak. Wow... sepertinya, hidup sudah mulai berubah, prioritas pun berubah.

Kisah nyata, salah satu temanku yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di kementerian yang sama denganku tetapi beda direktorat, memilih keluar alias berhenti menjadi PNS, melepaskan gaji dan tunjangan-tunjangannya yang tentu tak sedikit. Alasannya, pimpinan tidak menyetujui kepindahannya ke kota Makassar dimana suaminya bekerja. Saat itu, temanku sudah memiliki satu orang putri yang lucu dan masih balita. LDR dengan suami, ditambah harus membesarkan anak seorang diri di perantauan dan keputusan pimpinan yang tidak memihak membuatnya memutuskan keluar dari pekerjaan. Sekarang kudengar temanku sudah menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, dan Alhamdulillah suaminya diterima menjadi pegawai negeri sipil di kota Makassar.

Ada lagi cerita, ketika aku membuka akun Facebook, ada teman yang curhat melalui status. Singkat cerita, dia merasa diremehkan oleh temannya yang menganggap enteng pekerjaan ibu rumah tangga. "Sudah capek-capek kuliah sampe S1 tetapi ilmunya tidak digunakan, malah memilih jadi ibu rumah tangga" ledek temannya itu kepada temanku. Temanku membela diri dengan mengatakan bahwa ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah adalah untuk menjadi bekal dalam mendidik anak-anaknya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga karena itu adalah pekerjaan paling mulia dan sungguh tidak mudah menjadi seorang ibu yang mengurus anak-anak, mengurus suami dan disibukkan dengan segudang pekerjaan rumah. Aku sepakat, karena aku melihat sosok ibuku yang bersusah payah membesarkan aku dan adik-adikku.

Semuanya kini menjadi ambigu. Mana yang harus dipilih seorang wanita ketika telah memasuki gerbang pernikahan? apakah harus melepaskan pekerjaannya? apakah harus menitipkan anaknya? apakah harus masak atau makan di warung? apakah harus menyewa asisten rumah tangga? semua pilihanya punya konsekuensi sendiri.

Setiap wanita punya tokoh teladan atau percontohan yang menjadi dasar sebuah keputusan besar. Mungkin ada yang mencontoh almarhumah Ibu Ainun, istri pak Habibi yang walaupun sudah sekolah tinggi tetapi memilih menjadi ibu rumah tangga dan mengurus suami, hingga suami dan anak-anaknya menjadi orang hebat. Mungkin ada juga yang mencontoh Siti Khadijah, istri Rasulullah, seorang pengusaha kaya yang hartanya digunakan untuk membantu suaminya berdakwah. Aku sendiri sudah banyak melihat wanita karir yang tetap bisa menjadi ibu bagi anak-anaknya dan istri yang patuh pada suaminya. Walaupun tak sedikit wanita yang karena pekerjaannya, keluarga diabaikan, anak-anak ditelantarkan.
Satu hal yang diyakini bahwa Islam sesungguhnya tidak melarang wanita bekerja. Islam menyuruh manusia untuk bertebaran di muka bumi mencari rezki, baik laki-laki maupun perempuan. Wanita dilahirkan sebagai manusia yang tangguh, peradaban Islam maju tak lepas dari wanita-wanita tangguh. Jika alasannya karena tidak mau meninggalkan keluarga, bukankah di jaman sekarang wanita bisa bekerja di rumah?! Menjadi penjahit, buka warung, catering atau yang lagi tren sekarang adalah jualan online. Wanita harus memberdayakan otak, pikiran, waktu dan tenaga untuk dunia. Jadi mengapa kamu membatasi diri Ladies?


2 komentar: